INDRAMAYU, (fokuspantura.com),– Karnaval Budaya Unjungan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten di Desa Kedokanbunder, Kecamatan Kedokanbunder, Kabupaten Indramayu, Rabu 21 Oktober 2026.
Menjadi momentum penting untuk merawat warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi unjungan yang memasuki usia ke-547 ini bukan sekadar perayaan tahunan. Bagi masyarakat Kedokanbunder, kegiatan tersebut merupakan simbol penghormatan terhadap sejarah, kearifan lokal, serta ikatan kekeluargaan yang terus terjaga di tengah perubahan zaman.
Kuwu Desa Kedokanbunder, Muhammad Waskim, yang akrab disapa Oos, menegaskan bahwa tradisi unjungan memiliki makna mendalam bagi masyarakat. Selain menjadi ruang pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat persaudaraan warga dan keturunan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten yang tersebar di berbagai daerah.
“Atas nama Pemerintah Desa Kedokanbunder, saya, Muhammad Waskim, mengucapkan selamat milad atau hari jadi Desa Kedokanbunder dan Unjungan Buyut Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten yang ke-547. Semoga melalui unjungan tahun ini, Desa Kedokanbunder semakin subur, makmur, gemah ripah loh jinawi, serta masyarakatnya hidup rukun dan sejahtera,” ujar Oos.
Menurutnya, unjungan merupakan warisan budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga, bukan sekadar seremonial yang berlalu setiap tahun. Tradisi tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak kehilangan jati diri dan tetap mengenal sejarah yang membentuk kehidupan masyarakat saat ini.
Ia juga menyampaikan bahwa Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten dikenal dalam tradisi masyarakat setempat sebagai tokoh sejarah yang memiliki keterkaitan dengan Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah, salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Cirebon.
“Desa Kedokanbunder merupakan wilayah yang memiliki keberagaman dan kemajemukan masyarakat. Melalui kegiatan unjungan ini, kita ingin menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, serta merawat tradisi yang menjadi kebanggaan bersama,” ungkapnya.
Tradisi Leluhur, Penggerak Ekonomi Masyarakat
Lebih jauh, Oos menilai pelaksanaan karnaval budaya juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran warga dari berbagai daerah membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendapatkan manfaat dari meningkatnya aktivitas selama perayaan berlangsung.
Setiap kali unjungan digelar, masyarakat yang memiliki ikatan sejarah dan kekerabatan dengan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten turut kembali ke Desa Kedokanbunder. Momen tersebut menjadi ajang silaturahmi lintas daerah yang mempertemukan keluarga, keturunan, serta masyarakat yang masih menjaga ikatan dengan tradisi leluhur.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menyimpan potensi sosial dan ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan.
Oos berharap, tradisi unjungan dapat terus dilestarikan dengan melibatkan generasi muda, sehingga nilai sejarah, persaudaraan, dan gotong royong tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Dirgahayu Desa Kedokanbunder ke-547. Semoga tradisi unjungan ini terus lestari, menjadi perekat persatuan masyarakat, serta membawa keberkahan dan kemakmuran bagi seluruh warga,” pungkasnya.
Perayaan Unjungan Nyi Mas Ratu Ayu Kawunganten menjadi pengingat bahwa kemajuan desa tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya. Sebaliknya, sejarah dan tradisi dapat menjadi kekuatan untuk membangun identitas, menjaga persatuan, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Warisan leluhur bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan tanggung jawab generasi hari ini agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi yang akan datang. (Jay/Red/FP).



























