Diduga Tercemar, Nelayan Ujunggebang Desak Kompensasi Perusahaan Kapal Tongkang Batubara

banner 120x600

INDRAMAYU,(fokuspantura.com),-Aktivitas nelayan di wilayah Indramayu bagian barat (Inbar) yakni Desa Ujunggebang dan Tegaltaman, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, dihadapkan pada persoalan ceceran batubara yang dilaporkan muncul di kawasan perairan serta kepulan asap batubara yang bersumber dari Kapal Tongkang BG sejak beberapa hari lalu. Salwa. Kondisi tersebut menjadi perhatian warga pesisir, terutama nelayan yang menggantungkan kehidupan sehari-hari dari hasil laut.

Ceceran batubara yang dikhawatirkan berdampak terhadap aktivitas melaut dan hasil tangkapan nelayan. Ditambah asap yang timbul menjadi kekhawatiran terhadap kesehatan warga, mendorong  para nelayan untuk mendesak para pihak  agar masyarakat segera mendapat perhatian sehingga dampak kerugian tidak semakin meluas.

Menyikapi kondosi tersebut, Forkopimcam Sukra, yakni Camat Sukra, Sigit Widiyanto, Kapolsek Sukra, Iptu Andi Supriyatna, menggelar pertemuan  guna menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mengundang pihak perwakilan kapal tongkang Batubara, yang dihadiri Kuwu Desa Ujunggebang dan Tegaltaman, serta perwakilan nelayan, bertempat di aula kantor kaecamatan sukra, Selasa, 29 September 2026

“Kedua belah pihak sudah memahami kronolgis kejadian dan penanganan juga dampak dari batu bara yang terbakar juga pihak perusahaan akan bertanggung jawab atas kompensasi,”ujar Camat Sukra, Sigit Widiyanto, kepada fokuspantura.com.

Ditempat yang sama, Kepala Desa Ujunggebang, Sarjani mengatakan, hasil musyawarah terkait permasalahan ceceran dan asap batubara mendapat respons positif dari pihak kapal tongkang batubara.

“Sudah ada pertemuan perwakilan warga dari Ujunggebang dan pihak perusahan tongkang batubara memang belum ada kesimpulan tadi belum ada kesepakatan tapi ada permintaan warga yaitu menuntut kompensasi kepada pihak perusahan jenis dan apa bentuk kompensasinya belum disepakati,” paparnya

Warga nelayan di  dua desa yakni Ujunggebang dan Tegaltaman yang terdampak berharap adanya langkah konkret untuk mengetahui sumber ceceran batubara serta dampaknya terhadap lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Perwakilan nelayan Desa Ujunggebang, Ajid menjelaskan, dampak asap dan ceceran batu bara sangat mengganggu bagi masyarakat dan lingkungan.

“Tuntutan kami kapal tongkang batubara agar segera dipindahkan, yang kedua karena dampak yang dirasakan warga Desa Ujunggebang sangat luar biasa terkait asap batubara  yang tersebar ke permukiman  tuntutan kami adalah adanya kompensasi untuk warga  yang terdampak,” jelasnya.

Ajid menegaskan, usai dilakukan musyawarah yang diinisiasi Forkopimcam Sukra, pihak perushaan pemilik kapal tongkang merespons baik terkait beberapa tuntutan dari masyarakat. Dan apabila dikemudian hari tuntutan tidak terpenuhi pihaknya akan melakukan aksi.

“Apabila tuntutan kami tidak terpenuhi maka kami akan melakukan aksi pengusiran langsung terhadap keberadaan kapal tongkang di perairan Ujunggebang,” tegasnya.

Ironisnya, perwakilan perusahaan kapal tongkang enggan memberikan keterangan dan terkesan menghindari keberadaan awak media, sehingga perihal  waktu dan besaran kompensasi masih dipertanyakan publik. (Khaer/Red/FP).

Mau copas berita, silahkan izin dulu
Mau copas berita, silahkan izin dulu