Kolaborasi Pemkab dan PJT II Genjot Penanganan Kekeringan di Inbar

banner 120x600

INDRAMAYU, (Fokuspantura.com),-          El Nino Godzilla yang menyebabkan kemarau panjang hingga berakibat turunnya debet air  baku secara signifikan di sejumlah saluran irigasi, hingga berdampak pada kekeringan ekstrim pada  ribuan lahan pertanian. Memicu kekhawatiran petani terhadap potensi gagal panen pada Musim Tanam (MT) ll atau tanam musim gadu 2026.

Ancaman kekeringan yang mulai melanda di sejumlah areal persawahan tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu berkolaborasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) ll Unit Pengelola Irigasi (UPI) Jatiluhur, guna melakukan langkah kongkrit sebagai upaya menjaga ketersediaan air irigasi sekaligus mencegah gagal panen  pada musim tanam (MT) II Gadu, di wilayah Kabupaten Indramayu bagian Barat atau Indramayu Barat (Inbar).

Langkah penguatan sinergi untuk mencari solusi atas ancaman kekeringan, disampaikan pada rapat bersama antara Pemkab Indramayu yang dihadiri langsung petugas UPI Jatiluhur, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, para Camat berikut  Kuwu dan KTNA di wilayah bagian Barat bumi Wiralodra, serta PJT II Seksi Patrol, membahas berbagai langkah ditempuh, mulai dari pengaturan distribusi air secara bergilir, percepatan normalisasi saluran irigasi, pemanfaatan pompa air di daerah terdampak, hingga pemantauan lapangan secara berkala, yang berlangsung di aula Kecamatan Anjatan, Selasa, 4 Agustus 2026.

Para petani juga diharapkan berperan aktif dengan mematuhi jadwal pembagian air yang telah disepakati bersama. Melalui kerja sama tersebut, penggunaan air dapat dilakukan lebih efektif sehingga seluruh lahan pertanian tetap memperoleh pasokan yang cukup.

Pemerintah menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama menghadapi musim kemarau. Selain menjaga produktivitas pertanian, sinergi kuat antara pemerintah dan petani diharapkan mampu mempertahankan Indramayu sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Drs. H. Sugeng Heryanto, M.Si menjelaskan, upaya pemerintah Indramayu sudah maksimal berbagai langkah ditempuh, mulai dari pengaturan distribusi air secara bergilir, percepatan normalisasi saluran irigasi, pemanfaatan pompa air di daerah terdampak, hingga pemantauan lapangan secara berkala.

“Berdasarkan data yang ada sampai hari ini diwilayah PJT 2 masih belum tutup tanam masih ada kurang lebih dua ribu sampai tiga ribu hektare masih belum tanam hal ini statusnya masiih pra ada juga yang masih belum kebagian air jadi masih kurang lebih 90 persen, dari 90 persen yang sudah ditanam juga kelihatannya ada tanda-tanda yang sudah mulai terancam kekeringan kalau dihitung  ada sekitar kurang lebih 1900 an hektare mulai terancam kekeringan” paparnya.

Selain itu, upaya-upaya pemerintah yang sudah dilakukaan selain pengaturan distribusi air secara bergilir, percepatan normalisasi saluran irigasi, pemanfaatan pompa air di daerah terdampak, hingga pemantauan lapangan secara berkala, dan juga koordinasi lintas sektoral.

“Upaya kita ada bantuan Pompanisasi, Irpom, Irpip, dan bantuan Jaringan Irigasi Tanah (Jiat) dari BBWS,” imbuhnya.

Dengan komunikasi terus terjalin dan langkah-langkah penanganan yang dilakukan secara bersama-sama, diharapkan ancaman kekeringan dapat diminimalkan sehingga musim tanam tetap berjalan optimal dan hasil panen petani tetap terjaga.

Sementara petugas UPI Jatiluhur , Tri Aryadi memaparkan, upaya yang telah dilakukan UPI Jatiluhur diantaranya normalisasi saluran dan penambahan debit dari bendungan Sadawarna per 4 Agustus 2026, dari sungai Cipunagara tercatat sekitar 3, 45 dari HJP jadi total yang ada sekitar 16, 89 meter kubik itu akan mensuplesi ke Bendung Salamdarma.

“Terkait kebutuhan air kami juga ada penambahan air yaitu Jaringan Irigasi Tanah (JIAT) jadi berbagai upaya kita optimalkan,” paparnya. (Khaer/Red/FP).

Mau copas berita, silahkan izin dulu
Mau copas berita, silahkan izin dulu