Tiga Ratus Perahu Nelayan Semarakan Nadran Limbangan

banner 120x600

INDRAMAYUokuspantura.com),-  Laut Limbangan bergelora, bukan karena badai, tapi karena ribuan warga yang tumpah ruah dalam tradisi tahunan Nadranan, Rabu, 15 April 2026.

Sebuah pesta laut yang bukan sekadar seremonial, tapi simbol kuat perlawanan budaya terhadap arus modernisasi yang kian menggerus tradisi.

Dipimpin Ketua KPL Mina Sejati Jaya, Tohadi, ratusan nelayan menunjukkan kekompakan. Tak tanggung-tanggung, sekitar 300 perahu memenuhi Baroh Kali Limbangan, membuktikan bahwa solidaritas nelayan masih hidup dan tak bisa dipandang sebelah mata.

“Ini bukan hanya tradisi, ini harga diri nelayan,” tegas Tohadi.

Prosesi sakral pun digelar. Sesaji lengkap, mulai dari nasi tumpeng hingga kepala kerbau, dilarung ke tengah laut sejauh 2 kilometer. Diiringi kawalan dan ratusan perahu, momen ini menjadi titik klimaks—antara keyakinan, budaya, dan harapan akan rezeki yang terus mengalir.

Namun Nadranan bukan hanya soal ritual. Ini juga panggung rakyat. Dari wayang kulit, sandiwara, hingga dentuman organ dangdut RDH Group, semua tumpah dalam satu energi: hiburan tanpa sekat.

Di sisi lain, Kuwu Limbangan H. Nurwenda angkat suara. Ia mengingatkan keras soal keselamatan nelayan yang kerap dianggap sepele.

“Jangan hanya semangat melaut, tapi lupa keselamatan. Asuransi dan kartu PAS itu wajib, bukan pelengkap,” sentilnya.

Nadranan Limbangan hari ini bukan sekadar pesta. Ini pesan keras: tradisi pesisir Indramayu masih berdiri tegak. Di tengah perubahan zaman, nelayan memilih bertahan dengan budaya, dengan keyakinan dan dengan laut sebagai sumber kehidupan. (Jay/Red/FP).

Mau copas berita, silahkan izin dulu
Mau copas berita, silahkan izin dulu