INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Sri Wahyuni Utami Herman, S.T. (SWH), mendorong penguatan penanggulangan sampah berbasis desa, khususnya di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.
Dorongan tersebut disampaikan saat kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Minggu, 25 Januari 2026.
Dalam kesempatan itu, SWH menegaskan bahwa persoalan sampah bukan soal siapa yang salah, melainkan siapa yang mau mulai mengambil peran.
“Desa tidak kekurangan potensi, desa hanya butuh sistem dan kesadaran bersama. Sampah akan selesai jika dikelola dari rumah, oleh warga, dan untuk masa depan,” ujar SWH.
Ia menekankan pentingnya perubahan perilaku sejak dari rumah tangga, terutama dalam memilah sampah. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah bukan hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi proses pendidikan karakter bagi anak-anak.
“Ketika kita memilah sampah dari rumah, sesungguhnya kita sedang mendidik anak-anak tentang tanggung jawab. Ketika sampah organik diolah menjadi kompos, kita sedang menjaga kesehatan tanah dan pangan kita sendiri,” lanjutnya.
SWH juga menyoroti peran strategis mahasiswa dan masyarakat dalam gerakan pengelolaan sampah desa.
“Mahasiswa hadir bukan sebagai penonton, tapi sebagai pemantik. Warga bukan sebagai objek, tapi sebagai pelaku utama. Dan desa bukan tempat membuang sampah, melainkan tempat menumbuhkan masa depan,” tegasnya.
Dalam pesannya, SWH mengingatkan beberapa prinsip penting pengelolaan sampah di desa tidak membakar sampah, memilah sampah dari rumah, sampah organik diolah menjadi pupuk, sampah anorganik memiliki nilai ekonomi dan sampah harus selesai di desa
Menurutnya, desa yang bersih bukan karena banyak tempat sampah, melainkan karena warganya peduli dan mau memilah.
“Sampah bukan masalah kalau kita kelola bersama. Ini ikhtiar kecil hari ini, demi desa yang bersih, sehat, mandiri, dan berbahagia,” pungkas SWH.
Gerakan ini menjadi bagian dari semangat Gerakan Kebahagiaan Bersama SWH, yang mendorong pembangunan desa berkelanjutan berbasis kesadaran dan partisipasi warga.(Red/Adv/FP)



























