INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Sri Wahyuni Utami Herman, atau yang akrab disapa Bunda SWH, turun langsung ke lapangan melakukan pendataan dan peninjauan kondisi sungai bersama Camat Arahan, para kuwu, Kapolsek Arahan, Ketua MUI Kecamatan Arahan, serta unsur masyarakat.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti permasalahan eceng gondok yang menutupi aliran sungai dan jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 11 kilometer di wilayah Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu.
Dalam pendataan lapangan itu, Bunda SWH juga melibatkan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Arahan. Kehadiran mahasiswa KKN Unpad dinilai memberikan kontribusi penting, tidak hanya dalam proses pendataan, tetapi juga dalam edukasi lingkungan dan penguatan kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga fungsi sungai dan saluran irigasi.
Pertumbuhan eceng gondok yang masif tersebut telah menghambat aliran air sungai dan saluran irigasi, sehingga berpotensi mengganggu distribusi air ke lahan pertanian. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak langsung terhadap musim tanam padi yang saat ini sedang berlangsung.
Sebagai langkah awal, masyarakat bersama unsur pemerintah setempat melakukan gotong royong dengan membuat ikatan-ikatan eceng gondok untuk menahan laju penyebaran sekaligus membuka jalur aliran air. Namun demikian, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
“Oleh karena itu, kami mengambil langkah lanjutan dengan berkoordinasi dan berkomunikasi langsung dengan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat serta Dinas PUPR Kabupaten Indramayu, agar dapat dilakukan normalisasi sungai dan jaringan irigasi secara lebih optimal,” ujar Bunda SWH.
Menurutnya, normalisasi irigasi merupakan kebutuhan mendesak, mengingat Kecamatan Arahan dan Kabupaten Indramayu secara umum merupakan bagian penting dari lumbung padi Jawa Barat. Kelancaran aliran air menjadi kunci agar petani dapat melakukan tanam benih padi tepat waktu dan menjaga produktivitas pertanian.
Bunda SWH menegaskan, penanganan eceng gondok tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas unsur, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, mahasiswa, hingga masyarakat.
“Kami ingin memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan masyarakat. Ketika sungai dan irigasi berfungsi dengan baik, kesejahteraan petani dan ketahanan pangan daerah pun akan terjaga,” tegasnya.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan penanganan eceng gondok di Kecamatan Arahan dapat dilakukan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan, demi mendukung pertanian dan kehidupan masyarakat yang lebih baik.(Red/Adv/FP)



























