INDRAMAYU, (Fokuspantura.com),-Deretan gunungan padi, aneka sayuran segar, buah-buahan hasil panen, hingga hasil olahan pertanian menghiasi ruas jalan Desa Karanglayung. Di bawah terik matahari yang bersahabat, ratusan warga tumpah ruah mengikuti Karnaval Hasil Bumi yang digelar Pemerintah Desa Karanglayung Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu. Jawa Barat, sebagai rangkaian menyambut tradisi Mapag Sri, sebuah warisan budaya masyarakat agraris yang sarat makna syukur atas limpahan rezeki dari Sang Pencipta.
Suasana meriah begitu terasa sejak pagi. Warga dari berbagai blok dan kelompok tani tampil kreatif menghias kendaraan dan usungan dengan hasil bumi terbaik mereka. Warna-warni hasil panen yang tersusun rapi menjadi simbol keberhasilan para petani yang selama berbulan-bulan mengolah sawah dan ladang dengan penuh kesabaran. Bukan itu saja, komunitas pesepeda ikut memeriahkan acara tersebut.
Bagi masyarakat Karanglayung, Karnaval Hasil Bumi bukan sekadar pawai budaya. Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang menjadi penopang utama kehidupan warga. Di sepanjang perjalanan karnaval, masyarakat tampak antusias menyaksikan arak-arakan sambil mengabadikan momen yang hanya digelar pada waktu-waktu tertentu.
Kepala Desa Karanglayung, Kasmana Ahmad mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya menjaga dan melestarikan budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi muda. Selain itu, karnaval juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antarwarga serta menumbuhkan kecintaan terhadap sektor pertanian yang menjadi identitas desa.
“Tradisi Mapagsri ini, Insa Allah, akan terus kami laksanakan dan lestarikan lebih meriah lagi kedepannya sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi pemberian Tuhan YME, dan semoga panen selanjutnya bisa melimpah,” ujarnya kepada fokuspantura.com, Rabu, 24 Juni 2026.
Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, pada acara mapagsri kali ini disemarakan dengan gowes bareng mengiringi karnaval hasil produksi.
“Tahun ini beda, karnaval disertai gowes bareng dan iringan seni tradisional,” terang Kasmana.
Gemuruh musik tradisional yang mengiringi peserta karnaval lewat pengeras suara menambah semarak suasana. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam kegembiraan. Di balik kemeriahan itu tersimpan harapan besar agar musim tanam dan panen berikutnya kembali membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Pada puncak pelaksanaan Mapag Sri akan disuguhkan seni budaya Sandiwara. Dan karnaval Hasil Bumi menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat desa tidak pernah lepas dari alam dan pertanian. Tradisi yang terus dijaga ini bukan hanya tentang pesta rakyat, melainkan juga cerminan rasa syukur, gotong royong, dan penghormatan terhadap budaya yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Karanglayung. (Khaer/Red/FP).



























