INDRAMAYU, (fokuspantura.com),- Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus menggerus berbagai tradisi daerah, Pemerintah Desa Kedokanbunder, Kecamatan Kedokanbunder, Kabupaten Indramayu, tetap berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur melalui tradisi Mapag Sri yang digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang diperoleh sekaligus doa bersama agar musim tanam berikutnya diberikan keberkahan dan hasil yang melimpah.
Puluhan warga, petani, tokoh masyarakat, dan perangkat desa tampak larut dalam suasana penuh kebersamaan. Dengan membawa ikatan padi hasil panen, mereka menunjukkan bahwa pertanian bukan hanya sumber penghidupan, melainkan juga bagian dari identitas budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Kedokanbunder.
Kuwu Desa Kedokanbunder, Muhammad Waskim, mengatakan bahwa Mapag Sri bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada para petani yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan serta penghargaan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
“Tradisi ini bukan hanya tentang panen. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, dan penghormatan terhadap para leluhur yang telah mewariskan budaya kepada generasi sekarang,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan tradisi yang telah menjadi bagian dari jati diri masyarakat desa. Justru di tengah perubahan yang begitu cepat, budaya lokal harus semakin diperkuat agar tidak hilang ditelan zaman.
Mapag Sri juga menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak semata-mata lahir dari kerja keras petani, tetapi juga dari kebersamaan masyarakat serta doa yang terus dipanjatkan demi keberkahan hasil bumi.
Melalui penyelenggaraan Mapag Sri 2026, Pemerintah Desa Kedokanbunder berharap generasi muda dapat mengenal, memahami, dan meneruskan tradisi budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Indramayu tersebut.
Tradisi ini sekaligus menjadi bukti bahwa kemajuan zaman dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Dengan menjaga tradisi leluhur, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitasnya, tetapi juga merawat nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial di pedesaan. (Jay/Red/FP).



























