Diduga Tabrak Anjuran Gubernur Jabar, UPTD SDN 1 Patrol Tetap Gelar Perpisahan

banner 120x600

INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),-Suasana haru dan bahagia menyelimuti halaman balai Desa / Kecamatan Patrol Kabupaten Indramayu, saat puluhan siswa kelas VI UPTD SDN 1 Patrol yang berdiri sejak 1923, mengikuti acara perpisahan dan pelepasan 2025-2026. Di tengah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengimbau satuan pendidikan untuk tidak menggelar kegiatan wisuda atau perpisahan secara berlebihan, sekolah ini tetap melaksanakan kegiatan tersebut dengan konsep sederhana dan melibatkan partisipasi warga sekolah.

Sejak pagi, para siswa tampak mengenakan pakaian terbaik mereka. Senyum bahagia terpancar dari wajah anak-anak yang akan meninggalkan bangku sekolah dasar setelah enam tahun menimba ilmu. Beberapa orang tua terlihat sibuk mengabadikan momen berharga itu menggunakan telepon genggam mereka. Bagi sebagian keluarga, perpisahan sekolah menjadi kenangan yang hanya terjadi sekali dalam hidup.

Kepala UPTD SDN 1 Patrol, Tian Susilawati menjelaskan, bahwa kegiatan yang dilaksanakan bukanlah wisuda mewah, melainkan acara pelepasan siswa yang dikemas secara sederhana sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para siswa selama menempuh pendidikan dasar. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ajang mempererat hubungan antara sekolah, siswa, dan orang tua.

Meski demikian, pihak sekolah menegaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak memungut biaya yang memberatkan orang tua siswa. Dan seluruh rangkaian acara digelar dan dikordinir inisiatif oleh orang tua murid sendiri / wali murid pihak sekolah hanya menyediakan tempat semata.

“Kami hanya memfasilitasi Bunner melatih anak-anak untuk tampil sudah itu saja. Semua fix dari wali murid kemaren kami sudah komfirmasi ke wali murid mengadakan rapat pihak sekolah tidak akan mengadakan pelepasan cuma wali murid menginginkan jadi semua yang menghandle wali murid ” paparnya kepada fokuspantura.com, Senin, 15 Juni 2026.

Di sisi lain, pelaksanaan acara perpisahan ini menjadi perhatian publik karena bertepatan dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat yang mengingatkan sekolah agar tidak membebani orang tua melalui kegiatan seremonial yang berpotensi menimbulkan biaya tambahan. Kebijakan tersebut lahir sebagai upaya menciptakan pendidikan yang lebih sederhana, inklusif, dan tidak memberatkan masyarakat.

Bagi para siswa, polemik aturan bukanlah hal yang mereka pikirkan. Yang mereka rasakan hanyalah kebahagiaan karena dapat berkumpul bersama teman-teman untuk terakhir kalinya sebagai siswa sekolah dasar. Tangis haru pecah saat mereka saling berjabat tangan dan berfoto bersama guru yang selama ini membimbing mereka.

Hal ini disampaikan salah satu wali murid, Maria Ulfa menjelaskan, acara pelepasan / perpisahan ini merupakan inisiatif para wali murid dan sudah dirapatkan sebelumnya pihak sekolah hanya menyediakan tempat semata.

“Memang keinginan wali murid semua ini juga pihak sekolah cuma menyediakan tempat saja dan kami sudah membikin surat pernyataan bahwa wali murid itu yang menggagas ini semua tanpa paksaan dari manapun dan dirapatkan sebelumnya,” jelasnya.

Berbagai penampilan seni turut memeriahkan acara. Mulai dari tari Topeng, Lemgser, pembacaan puisi, dance, menyanyi, hingga pertunjukan kesenian lainnya. Tepuk tangan dan sorak bangga dari para orang tua mengiringi setiap penampilan yang ditampilkan di atas panggung sederhana.

Perpisahan itu akhirnya menjadi penanda berakhirnya satu babak perjalanan pendidikan sekaligus awal langkah baru menuju jenjang yang lebih tinggi. Di balik perdebatan mengenai aturan dan kebijakan, tersimpan kisah sederhana tentang anak-anak yang merayakan mimpi, persahabatan, dan kenangan yang akan mereka bawa hingga dewasa. (Khaer/Red/FP).

Mau copas berita, silahkan izin dulu
Mau copas berita, silahkan izin dulu