INDRAMAYU,(fokuspantura.com),- Hamparan sawah yang biasanya hijau kini mulai berubah warna. Di sejumlah wilayah Indramayu Barat (Inbar), sebagian retakan tanah perlahan muncul di sela-sela tanaman padi. Air yang menjadi denyut kehidupan persawahan semakin sulit mengalir, sementara terik matahari terus menyengat tanpa ampun.
Bagi sebagian para petani yang sudah menanam, setiap pagi bukan lagi sekadar memeriksa pertumbuhan padi, melainkan memastikan apakah masih ada air yang tersisa untuk menyelamatkan tanaman mereka. Kekhawatiran gagal panen mulai menghantui, terlebih musim tanam gadu II sangat bergantung pada kelancaran pasokan irigasi.
Sebagian petani terpaksa mengandalkan pompa air dengan biaya operasional yang tidak sedikit. Harga bahan bakar untuk menghidupkan mesin diesel menjadi beban tambahan di tengah harapan memperoleh hasil panen yang layak. Di sisi lain, ada pula petani yang hanya bisa menunggu aliran air datang untuk mulai menyemai.
Hal ini ceritakan salah satu petani Kecamatan Patrol, KY mengatakan, sawahnya yang seluas 1,5 Bahu sudah mulai kering dan sebagian tanah retak-retak, ia hanya bisa pasrah dengan kondisi tersebut. Berharap ada tindakan konkret dari pihak terkait guna memberikan solusi atas kekeringan ini.
“Sawah mulai kering dan sebagian retak untung ada kali jadi bisa nyedot mengandalkan pompa air sehari habis sekitar seratus ribuan,” ujarnya kepada fokuspantura.com, Kamis, 9 Juli 2026.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional. Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama instansi terkait telah melakukan langkah antisipasi melalui normalisasi saluran irigasi dan penambahan pompa air untuk mengurangi dampak kekeringan. Sejumlah bantuan pompa dari pemerintah pusat juga mulai disalurkan ke wilayah yang mengalami kesulitan air.
Hal senada dikatakan, H. AL, menurutnya para petani saat ini dibilang kekurangan air.”Ya kurang aman,” ujarnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, para petani berharap distribusi air dapat segera merata agar tanaman padi tidak telanjur mengering. Sebab bagi mereka, setetes air bukan hanya menyuburkan sawah, tetapi juga menjaga harapan, menghidupi keluarga, dan mempertahankan predikat Indramayu sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional.(Red/Khaer/FP)



























