Lestarikan Budaya Lokal, Pemdes Sukra Wetan Gelar Mapag Sri

banner 120x600

INDRAMAYU, (Fokuspantura.com),- Alunan musik tradisional Wayang Kulit mengiringi langkah warga yang berbondong-bondong memadati halaman kantor desa sembari membawa Tumpeng. Dengan mengenakan pakaian adat serba hitam sebagai bentuk rasa syukur hasil bumi, masyarakat Desa Sukra Wetan larut dalam suasana penuh kebersamaan dalam tradisi Mapag Sri, yang merupakan warisan budaya untuk terus dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.

Tradisi yang digelar oleh Pemerintah Desa Sukra Wetan Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, Mapag Sri menjadi simbol rasa syukur masyarakat agraris atas hasil panen yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya agar diberikan keberkahan dan hasil yang melimpah.

Ikut hadir pada acara tersebut Forkopimcam Sukra, Kuwu Sukra Wetan, Wanto, beberapa tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda.

Sejak pagi, warga dari berbagai kalangan tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Para petani, tokoh masyarakat, pemuda hingga anak-anak berkumpul dalam suasana penuh keakraban guna menyaksikan acara doa bersama.

Ayat- ayat suci Alquran dilantunkan oleh tokoh agama setemapt berkumandang di langit desa wilayah ujung bagian Barat kota Mangga bermunajat kepada Tuhan YME sebagai bentuk rasa syukur hasil bumi para petani. Sementara Tumpeng berisi lauk pauk dan aneka kue berjejer rapi kemudian oleh panitia dibelah menjadi dua sebagian dibagikan ke masyarakat sebagian lagi dibawa pulang oleh yang punya.

Kepala Desa Sukra Wetan, Wanto, menyampaikan bahwa pelaksanaan Mapag Sri merupakan bentuk komitmen pemerintah desa dalam menjaga nilai-nilai budaya lokal yang telah menjadi identitas masyarakat. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antar warga.

“Mapag Sri adalah warisan leluhur yang harus terus kita jaga. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman. Selain itu sebagai bentuk rasa syukur hasil panen kepada Tuhan YME,” ujarnya kepada fokuspantura.com,Selasa, 2 Juni 2026.

Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, keberadaan tradisi Mapag Sri menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat. Tradisi ini mengajarkan nilai gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan para petani.

Bagi masyarakat Sukra Wetan, Mapag Sri bukan hanya agenda budaya, melainkan bagian dari jati diri yang mengikat hubungan antara manusia, alam, dan tradisi. Melalui kegiatan ini, semangat kebersamaan tumbuh semakin kuat, sementara nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ketika matahari mulai condong ke barat, rangkaian acara perlahan berakhir. Namun semangat yang tercipta dari perayaan Mapag Sri tetap membekas di hati warga. Sebuah bukti bahwa budaya yang dirawat dengan cinta akan terus hidup, menjadi warisan berharga bagi generasi yang akan datang. (Khaer/Red/FP).

Mau copas berita, silahkan izin dulu
Mau copas berita, silahkan izin dulu