INDRAMAYU, (Fokuspantura.com),- Pasca diraihnya penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Indramayu tahun 2025, civitas akademik SDN 4 Bugis terus bergerak mewujudkan sekolah berbasis lingkungan yang lebih komprehensif, dengan menggalakan gerakan pembuatan biopori, yang melibatkan seluruh komponen sekolah, baik tenaga pendidik dan juga para pelajar.
Langkah kongkrit satuan pendidikan yang berkedudukan di Desa Bugis Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tersebut, sebagai upaya guna menyongsong program Adiwiyata Nasional tahun 2026, yang di support langsung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten yang dijuluki Kota Mangga.
Kepala Sekolah SDN 4 Bugis, H. Warnita, mengatakan, pembuatan lubang resapan biopori di sekolah merupakan metode efektif untuk mengatasi genangan air, mengurangi sampah organik serta meningkatkan konservasi air tanah. Dan pembuatan biopori ini merupakan kelengkapan kesiapan gun menyongsong Adiwiyata Nasional.
“Pada tahun 2025 kami mendapat penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten dan di tahun 2026 ini kami persiapkan guna menyongsong program Adiwiyata Nasional,” ujar Warnita disela kegiatan pembuatan biopori, Jum’at, 6 Pebruari 2026.
Adapun biopori yang diciptakan, lanjut Warnita, adalah dengan membuat lubang vertikal berdiameter 20 – 30 centimeter sedalam 40 – 60 centimeter di halaman sekolah, selanjutnya sampah organik akan dimasukma kedalam lubang tersebut untuk diolah menjadi kompos guna menyuburkan tanah dan meningkatkan daya resap air.
“Rencananya jumlah biopori yang dibuat sebanyak 40 sampai 50 titik, yang tersebar di depan kelas dan halaman sekolah,” terangnya.
Dikatakannya pula, selain menyongsong program Adiwiyata Nasional, kegiatan ini untuk mengajarkan kepada murid tentang kepedulian lingkungan dan pengurangan sampah yang biasanya dibuang ke TPS ataupun TPA, kemudian untuk pemeliharaan biopori, sampah organik di dalam lubang terus dikontrol untuk ditambahkan atau diganti secara berkala ketika panen kompos, agar lubang tetap berfungsi secara maksimal.
“Agar biopori tetap berfungsi maksimal, maka akan dikontrol secara rutin oleh dewan guru ataupun siswa,” ungkap pria yang aktif selaku Tim Pembina Gerakan Pramuka Kwarcab Indramayu.
Warnita menegaskan, melalui program Adiwiyata ini, pihaknya menanamkan kepada peserta didik untuk mencintai alam dan melestarikan lingkungan, yang diterapkan bukan hanya di sekolah melainkan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Kami tanamkan kepada siswa agar cintai alam dan lestarikan lingkungan,” pungkas Warnita. (Red/FP).



























