Peringati Hari Lahir Pancasila, Puluhan Profesor Kumpul di Al Zaytun Bahas Arah Pendidikan Nasional 

banner 120x600

INDRAMAYU, (Fokuspantura.com),- Langit pagi di kawasan Ma’had Al-Zaytun yang berkedudukan di Desa Mekarjaya Kecamatan Gantar Kabupaten Indramayu, Jawa Barat tampak cerah. Di tengah hamparan kompleks pusat pendidikan amat luas, ratusan tamu undangan dari berbagai daerah memenuhi ruang pertemuan. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama membicarakan masa depan pendidikan Indonesia.

Suasana intelektual begitu terasa ketika puluhan guru besar, akademisi, peneliti, serta praktisi pendidikan berkumpul dalam sebuah Konferensi Pendidikan Indonesia yang berlangsung di gedung Ali Bin Abi Thalib lantai 5, Minggu, 31 Mei 2026.

Bertajuk “Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abd XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan”. Sekitar 50 profesor dari berbagai perguruan tinggi hadir untuk menyumbangkan gagasan, pengalaman, dan pandangan strategis mengenai arah pendidikan Indonesia di masa mendatang.

Bagi para undangan, pertemuan tersebut bukan sekadar forum ilmiah biasa. Di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berubah akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan tuntutan globalisasi, konferensi ini menjadi ruang refleksi sekaligus laboratorium gagasan untuk mencari solusi yang relevan bagi bangsa.

Satu demi satu profesor menyampaikan pandangannya. Ada yang membahas pentingnya pendidikan karakter, penguatan literasi digital, hingga strategi membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Diskusi berlangsung dinamis, mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam satu tujuan besar, yakni memperkuat kualitas pendidikan nasional.

Dalam konsep yang ditawarkan, setiap pusat pendidikan dirancang berdiri di atas lahan minimal 3.000 hektare dan mampu menampung sekitar 100.000 pelajar serta mahasiswa. Model pendidikan tersebut mengintegrasikan pendidikan dengan kebutuhan industri nasional sehingga menghasilkan lulusan yang siap berkarya dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Kurikulum yang dikembangkan mengusung konsep LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual). Dalam kerangka tersebut, hukum menjadi pengawal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tetap berjalan sesuai konstitusi, etika, serta nilai-nilai Pancasila. Sementara aspek spiritual menjadi fondasi pembentukan karakter generasi yang berintegritas, disiplin, kreatif, produktif, dan peduli terhadap sesama.PP

Gagasan tersebut diinisiasi oleh Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, S.Sos., M.P., sebagai langkah strategis mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul, produktif, dan berkarakter.

“Kami menggagas pembangunan 500 pusat pendidikan berasrama di seluruh kabupaten dan kota sebagai investasi peradaban. Pendidikan harus terhubung dengan kebutuhan industri, teknologi, pertanian, pangan, dan pembangunan bangsa.” ucapnya.

Sementara Ketua Umum Panitia kegiatan, Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.A.P., menjelaskan bahwa forum tersebut bukan sekadar kegiatan akademik biasa, melainkan upaya menghimpun pemikiran terbaik bangsa untuk melahirkan model pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, pendidikan berasrama terintegrasi dengan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan pembentukan karakter merupakan salah satu solusi strategis dalam membangun generasi masa depan Indonesia yang tangguh dan kompetitif di tingkat global.

“konferensi ini menjadi ruang kolaborasi para profesor dan akademisi lintas bidang untuk merumuskan gagasan besar yang diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan pendidikan nasional,” ujarnya.

Di sela-sela kegiatan, para tamu undangan tampak saling berdiskusi. Ruang konferensi berubah menjadi arena pertukaran ide yang hidup. Tidak sedikit yang memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun jejaring akademik dan kolaborasi penelitian lintas kampus.

Pihak penyelenggara menilai kehadiran puluhan profesor menjadi bukti bahwa pendidikan harus dibangun melalui kolaborasi berbagai elemen bangsa. Kampus, pesantren, pemerintah, dan masyarakat dinilai perlu berjalan beriringan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ma’had Al Zaytun sendiri selama ini dikenal aktif menggelar berbagai simposium dan forum pendidikan yang menghadirkan akademisi dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi keilmuan serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru bagi kemajuan bangsa.

Gagasan transformatif dan revolusioner mengenai Grand Design Pendidikan ini adalah untuk mempercepat capaian Indonesia Emas yang di cita – citakan. Dan gagasan pendidikan yang terintegrasi antara ekosistem pendidikan itu sendiri, dengan Output Pendidikan yang dihasilkan langsung, yaitu Industri.

“Gagasan ini diinisiasi oleh syaykh Al-zaytun Abdussalam Rosyidi Panji Gumilang, S.Sos., M.P, dimana dari hasil simposium besar ini akan di sampaikan kepada khalayak umum besok di Masjid Rahmatan Lil’alamin Al Zayitun Indramayu – Indonesia, pada 1 Juni 2026, yang bertepatan dengan dengan hari lahirnya Pancasila.”terangnya.

Menjelang berakhirnya konferensi, semangat optimisme masih terasa di antara para Profesor. Mereka meyakini bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan. Dari ruang-ruang diskusi itulah lahir harapan bahwa pendidikan Indonesia tidak hanya mampu mencetak generasi cerdas, tetapi juga generasi yang berkarakter, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan dunia.

Konferensi Pendidikan Indonesia di Ma’had Al Zaytun akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan akademik. Ia menjelma menjadi panggung besar tempat para pemikir bangsa merajut gagasan, menyatukan visi, dan menyalakan harapan bagi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih maju. (Khaer/Red/FP).

Mau copas berita, silahkan izin dulu
Mau copas berita, silahkan izin dulu