YOGYAKARTA, (Fokuspantura.com),- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Alternatif-104 Unit II.D.1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bersama unit KKN lainnya yang diterjunkan di Kelurahan Brontokusuman berhasil menginisiasi terbentuknya Komunitas Kali Bening Yogyakarta sebagai wadah kolaborasi masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai dan lingkungan. Komunitas tersebut resmi disahkan pada 30 Juni 2026 oleh Mantri Pamong Praja Kemantren Mergangsan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAD sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.
Pembentukan Komunitas Kali Bening Yogyakarta merupakan salah satu program unggulan KKN Alternatif-104 Unit II.D.1 UAD yang lahir sebagai tindak lanjut atas program pelestarian sungai yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Yogyakarta. Program ini juga merupakan amanah yang dititipkan langsung oleh Wali Kota Yogyakarta agar mahasiswa KKN mampu mendorong lahirnya komunitas masyarakat yang menjadi penggerak dalam menjaga kebersihan, kelestarian, dan keberlanjutan ekosistem sungai.
Sebagai langkah awal, komunitas ini dibentuk di wilayah RW 16 Dusun Karanganyar, Kelurahan Brontokusuman, Kemantren Mergangsan. Kawasan tersebut dipilih karena berada di bantaran sungai serta memiliki potensi partisipasi masyarakat yang tinggi dalam mendukung berbagai program pelestarian lingkungan.
Proses pembentukan komunitas dilakukan melalui serangkaian koordinasi dan diskusi yang melibatkan pemerintah kemantren, pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Dalam proses tersebut, mahasiswa KKN Alternatif-104 UAD berperan sebagai fasilitator yang membantu menyusun struktur organisasi, merumuskan visi dan misi, serta menyusun program kerja awal sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan komunitas.
Komunitas Kali Bening Yogyakarta beranggotakan masyarakat yang sebagian besar berdomisili di Kota Yogyakarta. Keterlibatan warga secara langsung diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap sungai sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat perkotaan. Melalui komunitas ini akan dilaksanakan berbagai kegiatan, seperti edukasi lingkungan, aksi bersih sungai, pengelolaan sampah, kampanye pengurangan limbah domestik, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan secara berkelanjutan.
Pengesahan komunitas oleh Mantri Pamong Praja Kemantren Mergangsan menjadi momentum penting karena menandai dimulainya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan sungai. Kehadiran komunitas ini diharapkan menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Kota Yogyakarta.
Koordinator KKN Alternatif-104 Unit II.D.1 UAD, Muhammad Aditya Chandra Sunarno, mengatakan bahwa pembentukan komunitas bukan sekadar menjadi capaian program kerja selama masa KKN, melainkan merupakan upaya membangun sistem yang dapat terus berjalan setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.
“Melalui Komunitas Kali Bening Yogyakarta, kami ingin menghadirkan gerakan yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Komunitas ini diharapkan menjadi motor penggerak masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai secara mandiri, berkelanjutan, serta mampu melibatkan berbagai elemen masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan komunitas ini diharapkan mampu memperkuat budaya gotong royong masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sungai yang berkelanjutan. Sungai tidak hanya dipandang sebagai saluran air, tetapi juga sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama demi keberlangsungan lingkungan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dusun Karanganyar menjadi titik awal lahirnya Komunitas Kali Bening Yogyakarta. Ke depan, komunitas ini diharapkan dapat berkembang ke berbagai wilayah di Kota Yogyakarta sehingga terbentuk jaringan komunitas peduli sungai yang saling bersinergi. Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Komunitas Kali Bening Yogyakarta diharapkan menjadi contoh nyata kolaborasi dalam mewujudkan lingkungan perkotaan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Rizqi/Red/FP).



























