Kekeringan Lahan Pertanian, Danrem Tindak Mafia Air

banner 120x600

INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- Kekeringan sekitar 80 ribu hektar lahan pertanian yang melanda masyarakat petani Kabupaten Indramayu menyulut perhatian serius Danrem 063/Sunan Gunung Jati Cirebon, pasalnya ia akan menindak tegas mafia air yang selama ini melakukan pengaturan air dengan tidak benar.

Penegasan itu disampaikan pada konferensi Pers, disela-sela acara Rapat Kordinasi UPSUS ,Jum’at(26/5/2017) di Ruang Ki Tinggil Pemkab Indramayu.

“Kita akan segera bentuk satgas pengairan, tujuannya untuk memberantas para mafia air yang kerap meresakan masyarakat,” ungkap Danrem 063 Sunan Gunung Djati, Kolonel Inf Veri Sudidjanto

Menurutnya, informasi yang diterima dilapangan, para mafia air kerap meminta uang kepada masyarakat petani saat pengaturan air. Sementara kepada lahan petani yang tidak bayar maka tidak akan diberikan pasokan air. Hal ini jelas merugikan masyarakat dan harus diberantas. ‘’Ini sangat merugikan para petani. Untuk itu harus diberantas,’’ terangnya.

Langkah kongkrit untuk  memberantas keberadaan mafia air tersebut, pihaknya akan melibatkan sejumlah instansi di antaranya adalah pihak kepolisian kemudian Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung, Pemda dan berbagai instansi terkait lainnya.

Ia juga akan mengingatkan secara baik-baik kepada para mafia air agar menghentikan aksi mereka. Namun jika mereka tetap melancarkan aksi yang dapat merugikan masyarakat petani, maka hukum yang akan bertindak.

“Kami akan ajak polres untuk mengatasi masalah itu karena (tindakan mafia air) merupakan perbuatan kriminal,” ujarnya.

86 Ribu Lahan Pertanian Indramayu Butuh Air

Sekitar 86.000 hektar sawah di Indramayu dan Cirebon terancam kekeringan dan gagal panen, tersebar di 80% wilayah Indramayu dan 20% Cirebon. Sekitar 516.000 ton akan kehilangan produksi padi. Pemerintah diminta sikapi serius soal ini.

“Sekitar 86 ribu hektar akan terancam kekeringan dan gagal panen. Mayoritas di Indramayu sampai 80 persen. Sehingga sekitar 516 ribu ton padi akan kehilangan produksi,” ujar pengamat Pertanian, Carkaya SP kepada Fokuspantura.com, Jumat (26/5/17).

Carkaya, yang juga sebagai Ketua DPP Mari Sejahterakan Petani (MSP) Indonesia ini mengungkapkan, ancaman gagal panen tersebut akibat terhambatnya proses pengerjaan konstruksi di Waduk Jatigede Sumedang, sehingga air dari Waduk Jatigede tidak mengalir dengan maksimal ke sungai Rentang sebagai bangunan pembagi utama, yang inti kanan ke sungai Sindupraja untuk mengairi seluas 50.000 hektar di Cirebon Barat dan Indramayu Timur, dan inti kiri ke sungai Cipelang mengairi 36.000 hektar di seluruh areal sawah Indramayu Tengah.

“Ini sangat berpotensi kehilangan produksi padi sebesar 516.000 Ton, dengan asumsi produktivitas 6 ton per hektar, dengan asumsi Luas 86.000 hektar. Selain itu akan terjadi kerawanan pangan dan kerawanan ekonomi di kabupaten Indramayu dan Cirebon,” papar Carkaya.

Carkaya mengingatkan, solusi yang harus dilakukan pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung adalah segera mengalirkan air dari waduk Jatigede ke Rentang dengan debit air 60 Kubik per detik Selama 24 jam sampai panen musim gadu ini.

“Berarti menghentikan sementara pekerjaan konstruksi sekitar Jatigede sampai Panen Gadu 2017,” jelasnya.

Hal itu dilakukan, mengingat kondisi areal persawahan di wilayah Indramayu misalnya di kecamatan Lelea (Desa Tempel, Pengauban, Tempel Kulon, dan Cempeh ), kecamatan Cikedung (Desa Mundakjaya), kecamatan Kandanghaur, kecamatan Losarang, kecamatan Terisi, kecamatan Gabuswetan, kecamatan Jatibarang, kecamatan Krangkeng, kecamatan Karangampel, kecamatan Juntinyaut, kecamatan Balongan, kecamatan Pasekan, kecamatan Kedokanbunder, kecamatan Arahan, dan kecamatan Cantigi, sudah mulai mengalami kekeringan.Bahkan beberapa petani sampai beberapa kali melakukan tanam ulang.

“Sebagian besar saat ini banyak wilayah sudah mulai mengalami krisis air dan sebagian besar mengalami kekeringan. Sehingga berpotensi terjadi gesekan yang akhirnya bisa berujung konflik di masyarakat. Seyogyanya BBWS Cimanuk-Cisanggarung agar bereaksi cepat menyikapi kondisi ini,” tandas pria jebolan UNPAD Bandung ini.(Ihsan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mau copas berita, silahkan izin dulu
Mau copas berita, silahkan izin dulu