SLAWI (Fokuspantura.com) – Di kawasan Waduk Cacaban, siapa yang tak kenal dengan Pak Damin, sosok sederhana menjabat Ketua RT diwilayah itu, juga berprofesi sebagai seorang penjaga sekolah. Sosok beliau begitu disegani oleh warga sekitar, sehingga dipercaya menjadi Ketua RT selama dua periode berturut-turut.
Kediaman Pak Damin berada tak jauh dari gerbang masuk Waduk Cacaban. Rumah yang berada diseberang lahan parkir itu tampak sederhana, disampingnya terdapat kamar mandi umum untuk melayani wisatawan yang berkunjung. Beliau juga membuka warung kecil dekat rumahnya, menyediakan makanan serta minuman, serta alat pancing untuk wisatawan yang hendak memancing disekitaran waduk.
Sebelum menjadi penjaga sekolah, Pak Damin sempat merantau ke Jakarta. Mulai dari menjadi penarik becak di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, sampai menjadi buruh pabrik di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur. Pada tahun 1984, beliau ditawari pekerjaan menjadi penjaga sekolah. Dengan gaji yang hanya Rp. 5000,- per bulan, Pak Damin tidak pernah mengeluh, padahal jarak antara rumah dengan tempat beliau bekerja, sekitar 25 kilometer jauhnya, ditempuh dengan menggunakan sepeda ontel.
Dimata rekan kerjanya, Pak Damin dikenal sebagai sosok yang ulet dan pekerja keras. Hal ini disampaikan oleh Pak Supardi, mantan Kepala Sekolah tempat beliau bekerja.
“Pak Damin seorang pekerja keras, beliau juga sholeh sehingga pantas jadi panutan kita semua,” jelas Pak Supardi.
Di usianya yang lebih dari setengah abad, Pak Damin masih tampak segar bugar. Ketika ditemui dikediamannnya, Jumat (26/7/2019)kemarin, beliau tengah berada dihalaman belakang. Kesibukan Pak Damin ketika pulang dari tugasnya sebagai petugas kebersihan di SDN Tonggara 02, dilanjutkan dengan membuat gorong-gorong. Gorong-gorong yang terbuat dari batu, pasir, dan semen itu, dicetak dengan cetakan khusus yang dibuatnya sendiri. Dalam sehari, Pak Damin bisa membuat antara 2 atau 3 buah gorong-gorong. Karena kualitasnya yang baik, Pak Damin seringkali mendapat pesanan gorong-gorong dari perumahan disekitaran Kabupaten Tegal. Bahkan dari hasil usahanya itu, Pak Damin mengaku bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi.
”Alhamdulillah, anak saya sudah menjadi guru, lebih baik dari orang tuanya yang hanya seorang penjaga sekolah”, tutur Pak Damin.
Wajahnya tampak berseri, tersirat kebanggan dari raut wajahnya.
“Insya Allah, saya juga akan menunaikan ibadah haji tahun 2022, mohon doanya saja mas semoga tepat waktu dan tidak ada halangan,” tambah Pak Damin kepada Fokus Pantura.
Pak Damin bersama masyarakat sekitar, juga tengah mendirikan bangunan Mushalah. Mushalah yang berdiri diatas tanah wakaf milik orang tuanya itu, kini telah memasuki tahap penyelesaian.
“Sebagian dana pembangunan Mushalah saya sisihkan dari hasil pendapatan WC Umum, dan sedikit rizki saya lainnya. Masyarakat juga membantu banyak, sehingga bangunan ini kini hampir selesai.” tutup Pak Damin.
Semoga banyak sosok Pak Damin – Pak Damin lainnya.


























