PENGHUJUNG Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Waktu terasa berjalan lebih pelan, hati menjadi lebih peka, dan setiap pertemuan seolah membawa pesan kehidupan yang lebih dalam. Dalam momentum itulah, sebuah silaturahmi dengan para jurnalis di Kabupaten Indramayu menghadirkan refleksi yang tidak sederhana.
Beberapa di antara mereka kini sedang menjalani ujian kesehatan. Ada yang terserang stroke, ada pula yang harus membatasi aktivitas sehingga tak lagi leluasa turun ke lapangan seperti dahulu. Padahal, bagi seorang jurnalis, lapangan adalah ruang hidupnya — tempat cerita dikumpulkan dan kebenaran disampaikan.
Obrolan yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi perenungan. Musibah ternyata tidak pernah memilih siapa yang akan disapa. Ia tidak memandang profesi, jabatan, ataupun pengalaman hidup. Hari ini seseorang tampak kuat, esok bisa saja diuji dengan kelemahan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Di antara kisah yang paling menggugah adalah seorang jurnalis yang telah menjalani cuci darah selama lebih dari tujuh tahun. Waktu yang panjang untuk sebuah perjuangan. Bukan hanya tentang rasa sakit yang harus ditanggung, tetapi juga kesabaran keluarga yang setia mendampingi tanpa lelah. Dari sana terlihat bahwa sakit bukan sekadar ujian pribadi, melainkan ujian cinta dan keteguhan bersama.
Pertanyaan pun muncul diam-diam di dalam hati: bagaimana jika ujian itu datang kepada diri kita sendiri?
Sering kali manusia merasa sehat sebagai sesuatu yang biasa. Kita menjalani hari tanpa benar-benar menyadari betapa berharganya tubuh yang masih mampu bergerak, bekerja, dan berkumpul dengan orang-orang tercinta. Baru ketika sakit hadir, kita memahami bahwa kesehatan adalah nikmat yang tak ternilai.
Namun Ramadhan mengajarkan satu hal penting: tidak semua musibah adalah hukuman. Sebagian adalah cara Tuhan mengingatkan, sebagian menjadi jalan penghapus dosa, dan sebagian lagi justru mengangkat derajat manusia ke tingkat kesabaran yang lebih tinggi.
Dalam keterbatasan fisik para jurnalis itu, terlihat kekuatan yang justru tidak tampak saat tubuh masih kuat — ketenangan menerima takdir, kesabaran menjalani hari, dan keyakinan bahwa setiap ujian memiliki makna.
Mungkin inilah inspirasi terbesar di penghujung Ramadhan: hidup bukan tentang seberapa lama kita sehat, tetapi seberapa bijak kita mensyukuri setiap detik kesehatan yang masih diberikan.
Karena pada akhirnya, musibah bukan selalu akhir dari cerita. Ia bisa menjadi awal kesadaran — bahwa waktu, kesehatan, dan kebersamaan adalah anugerah yang sering kita sadari justru ketika hampir kehilangannya.
Semoga sahabat jurnalis yang saat ini mendapat ujian diberikan kesabaran dan tetap menjalankan aktifitas menulis dengan segala konsekwensi dan situasi yang dialami saat ini.
Bagi kawan yang seprofesi mari kita jadikan waktu yang baik ini untuk benar benar menjalankan amat ma’ruf nahi munkar dalam mengggali, mengungkap fakta dan mengabarkan peristiwa dihadapan kita secara baik dan benar. Jangan kemudian?membalikkan sebuah fakta opini demi kepentingan sesaat, karena keadilan tuhan ada pada ujung pengabdian kita kepada bangsa dan negara sebagai penulis yang mungkin dari tulisan kita akan dapat meninggikan derajat seseorang dihadapan Allah SWT.
Semoga kawan kawan yang tidak bertemu dengan Ramadhan tahun ini dilapangkan kuburnya dan tetap menjadi penulis dalam catatan sejarah keabadian bagi kemajuan bangsa yang maslahat.
Waalahu’alam.
Ihsan Mahfudz, Direktur Fokus Pantura.



























