CSR Jatibarang Field, Diresmikan Laboratorium Pos Pelayanan Agen Hayati

INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- PT Pertamina EP Jatibarang Field telah sukses membangun Laboratorium Pos Pelayanan Agen Hayati untuk pengembangan Isolat/starter agens hayati (patogen serangga dan agen antagonis), yang keperuntukannya untuk perlindungan tanaman pangan dan hortikultura yang dikelola oleh Kelompok Tani Sri Trusmi Satu, berlokasi dekat dengan SPU-A Desa Kedokanbunder Wetan, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu.

Bantuan program Corporate Sosial Responsibility (CSR) itu, ditandai dengan penyerahan kunci sekaligus menandatangai prasasti laboratorium Pos Pelayanan Agen Hayati (PPAH)oleh Jatibarang Field Manager, Hari Widodo disaksikan perwakilan Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Maunah Ambarwati, Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi Jawa Barat,Juju Rukmana, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Aam Muharam, Camat Kedokanbunder, Andri M. Shaleh AP serta para petani POPT se-Kabupaten Indramayu, Kamis (19/12/2019) kemarin.

“Yang menjadi fokus Pertamina EP Jatibarang Field pada program ini adalah tidak saja untuk peningkatan kapasitas petani di Indramayu, namun melihat dari sisi lingkungan dan kesehatan terhadap mutu pangan,” kata Jatibarang Field Manager, Hari Widodo dalam rilis yang diterima, Senin(22/12/2019).

Menurutnya tidak banyak yang tahu apa itu agen hayati, mengapa perlu dikembangkan dan apa manfaat dari agen hayati tersebut. Lewat Ketua Kelompok Tani Sri Trusmi Satu, Waklan telah mampu melakukan inovasi dengan keuletannya menciptakan teknologi yang ramah bagi lingkungan. Jadi isolat yang telah dibuat untuk perbanyakan secara massal, juga untuk melihat populasi atau intensitas dari (Instar) hama dan penyakit yang menyerang untuk strategi pengendalian yang tepat.

“Karena pembuatan isolat/starter perlu tempat yang steril untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka kami membangun pusat laboratorium,” tuturnya.

Ia menjelaskan, produk kimia pada tanaman sangat tinggi ini, lambat laun akan mengalami kerusakan lingkungan dan juga berdampak pada kesehatan, maka hadirnya Pertamina EP Jatibarang Field melalui program CSR, dapat memberikan manfaat khususnya Ketua Kelompok Tani bersama anggota dengan keuletannya menciptakan teknologi yang ramah bagi lingkungan.

Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Aam Muharam mengatakan dengan adanya agen hayati ini menjaga keseimbangan alam karena satu-satu di Indramayu yang memproduksi isolate starter agen hayati untuk menciptakan pertanian yang ramah lingkungan.

Senada, Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan & Hortikultura Provinsi Jawa Barat,Juju Rukmana dalam sambutannya mengatakan, bahwa laboratorium Pos Pelayanan Agen Hayati sebagai pionir, pasalnya belum ada perusahaan di Jawa Barat yang peduli untuk mengembangakan pertanian yang ramah lingkungan.

“Saya sangat apresiasi kepada Pertamina EP Jatibarang, dan agar kiranya laboratorium ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh kelompok tani, bisa dijadikan pusat edukasi bagi para POPT petugas lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Perwakilan Direktur Jenderal Ketahanan Pangan Kementan RI Maunah Ambarwati, sangat memberikan apresiasi untuk Kelompok Tani dan Pertamina, karena tidak tiba-tiba saja ada laboratorium ini jika bukan karena kerja keras dari Waklan bersama kelompok taninya dalam mengembangkan agen hayati untuk pertanian di Indramayu sebagai lumbung padi di Indonesia.

“Produk agen hayati seperti pestisida nabati, trico bokasih yang kami gunakan dari produksi ini, telah kami rasakan manfaatnya baik dari segi biaya produksi yang lebih murah dan ketahanan tanaman dengan menggunakan produk alami ini jauh lebih kuat disbanding dengan penggunaan kimia,” tuturnya.

Testimoni yang disampaikan oleh salah seorang petani di Indramayu dengan menggunakan produk dari pengembangan isolate buatan Waklan sangat memberikan manfaat yang luar biasa.

Untuk memenuhi ketersediaan bahan pembuatan produk-produk agen hayati ini, tidak hanya melibatkan kelompok, namun masyarakat sekitar juga dapat terlibat secara langsung lewat penyediaan bahan baku seperti kentang, kotoran ternak, sehingga diharapkan perekonomian masyarakat di desa dapat berjalan dari pengembangan produksi ini.


Redaktur: Ihsan Mahfudz
Penulis: Ihsan Mahfudz

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active