Webiner Bedah Buku “Islam Radikal dan Moderat : Diskursus dan Kontestasi Varian Islam Indonesia”

Webiner Bedah Buku “Islam Radikal dan Moderat : Diskursus dan Kontestasi Varian Islam Indonesia”
INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- Forum Indramayu Studi (FIS) kerja bareng PC IPNU Indramayu sukses menggelar Webiner Live Google Meeting, bedah buku dengan tema "Islam Radikal  dan Moderat : Diskursus dan Kontestasi Varian Islam Indonesia”, Sabtu,(20/2/2021).
 
Webinar ini berjalan dengan lancar dan cukup meriah lewat moderator, Ari Abi Aziz, dihadiri dari berbagai kalangan yang menjadikan acara tersebut semakin menarik. Hadir sebagai pembicara kompeten, Abdul Jamil Wahab (Penulis Buku dan Peneliti Litbang Kemenag RI) dan Arif Rofiuddin (Sosiolog).
 
"Acara tersebut digagas atas dasar pentingnya melihat berbagai corak kelompok Islam yang ada di Indoneisa. Sehingga dapat memetakan kelompok Islam dengan baik dan benar agar tidak terjebak kepada tindakan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945," kata panitia penyelenggara, Arif dalam rilis yang diterima, Minggu,(21/2/2021).
 
Forum Indramayu Studi (FIS) memahami betul terkait tidak sedikitnya generasi milenial yang terpapar paham radikal dan intoleran yang berujung pada tindakan kekerasan dan represi. 
 
"Semoga acara bedah buku dengan menghadirkan dua pemateri yang cukup berkompeten bermanfaat untuk generasi masa depan," tuturnya.
 
Pemateri Bedah Buku, Abdul Jamil Wahab  produktivitas pemikiran beliau tertuang dari beberapa karya yang sudah dibukukan salah satunya yang di bahas dalam acara bedah buku. Terdapat sejumlah alasan beliau megulas isu kelompok islam di Indonesa melalui tulisannya. 
 
Menurutnya, buku ini di tulis atas sebuah renungan panjang, dimana  Islam yang ada di Indonesia mengalami polarisasi/fragmentasi.Sehingga menarik kepedulian dan perhatian penulis sebagai peneliti untuk bisa mengungkap, mengamati dan memotret secara lebih detail, karena pentingnya mengungkap varian Islam secara lebih cermat  agar  dapat memberikan dampak positif  terhadap masyarakat yang baru memahami Islam dan tidak salah memahami Islam. 
 
Konsep itu, kata Jamil, sangat penting sekali untuk membumikan pandangan Islam moderat, yang mana meliahat bentuk negara itu wasilah (jalan/perantara), bukan ghoyyah (tujuan).
 
"Islam tidak mengenal bentuk negara yang seperti apa yang disyariatkan di dalam Islam, yang penting adalah ghoyyah: bagaimana masyarakat muslim dapat beribadah kepada Allah, mencapai kesejahteraan dan kemakmuran dalam hidup," ungkap Penulis Buku dan Peneliti Litbang Kemenag RI ini.
 
Oleh karenanya didalam Islam, misalnya Arab Saudi, menggunakan sistem kerajaan, Iran Republik, Mesir Republik, Indonesia republi. Dari berbagai system negara tersebut menunjukkan Islam bukan sekedar ornamen dalam beragama melainkan lebih kepada substansi dalam beragama.
 
Kemudian perlu dipertegas kembali dalam islam moderat bahwa peperangan hanya untuk membela diri. Peperangan secara ofensif tidak dibolehkan. Yang ada hanyalah membangun perdamaian. Karena kebanyakan  dari kelompok radikal yang gagal paham mengenai konsep peperangan dalam Islam itu sendiri dan masih banyak yag lainnya.
 
Oleh karena itu buku ini memotret fenomena dua kelompok besar yang ada di Indonesia agar masyarakat lebih paham dan dapat memetakan secara baik dan bijak perihal pandangan dan gerakan dari masing-masing kelompok islam. 
 
"Dengan tulisan ini tidak mudah menyalahkan dan mengeneralisir terkait pandangan dan gerakan Islam," tuturnya.
 
Sementara itu, Pemateri Sosiolog, Arif Rofiuddin, memberikan ulasan perihal buku yang ditulis Abdul Jamil Wahab.  Respon yang positif diberikan Sosiolog muda ini akan karya yang sangat direkomendasikan untuk bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas bukan sekedar kalangan akademisi saja. 
 
Menurutnya, buku ini juga memberikan pandangan yag cukup luas mengenai pandangan dan gerakan kelompok Islam yang ada di Indoneisa dari era zaman dulu (prakemerdekaan) sampai sekarang. 
 
Buku Ini sangat dianjurkan khususnya bagi generasi millenial yang saat ini tidak sedikit masuk kedalam kelompok intoleran. Dimana Kebanyakan dari para anggota kelompok intoleran mengikuti kegiatan dari konten-konten media sosial, yang semula bagi mereka informasi yang didapatkan semuanya dapat dibenarkan tanpa mereka mengkritisi kembali. Sehingga disini masuk kedalam fenomena sosial generasi yang kurang sadar akan pentingnya literasi. 
 
"Sekali lagi budaya literasi harus senantiasa digencarkan," tuturnya.
 
Menurutnya pandangan dari Sosiolog, Emile Durkheim bahwa agama sejatinya menciptakan equilibrium (Keteraturan atau Keseimbangan), maka ketika terjadi fenomena sosial dari sekelompok agama melakukan tindakan kekerasan dan represi mengatasnamakan agama, sejatinya mereka masih belum menjadikan agamanya sebagai spirit kedamaian dan keteraturan. 
 
"Yang ada hanyalah mereka yang memakai jubah agama dengan kepentingan ego dan hawa nafsu pribadi dan kelompoknya," umbuhnya.
 
Ia menambahkan, sangat jelas sekali Islam yang dibawa Nabi Muahammad SAW membawa misi kesetaraan dan kemanusiaaan, sehingga apa yang diajarkan Islam sejatinya lebih mengedepankan prinsip-prinsip universalitas. Selanjutya Indonesia sebagai negara yang majemuk bukan sekedar kebudayaan semata melainkan kepercayaan, sehingga negara menjamin setiap pemeluk agama untuk bisa hidup damai dan nyaman dalam menjalankan kepercayaannya, tidak ada lagi klaim kebenaran mayoritas atas kepentingan untuk merepresi  kelompok minoritas.
 
Oleh karena itu negara hadir untuk melayani dan melindugi tiap-tiap kepercayaan. Sehinggga perlu sekali menggunaan pendekatan moderat dalam beragama agar tidak terjerumus pada fanatik buta dan sempit yang berujung pada tindakan kekerasan dan intoleransi.
 
"Dengan bedah buku ini diharapkan dapat membuka cakrawala pemikiran keislaman di Indoneisa dan menumbuhkan budaya literasi sehinggga dapat memunculkan sikap toleransi antar umat beragama," pungkasnya.
 
 
 
 

Redaktur: Ihsan Mahfudz
Penulis: Ihsan Mahfudz
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive