Cabup Nina Agustina Tertarik Kampung Jangkrik Kertasemaya

Cabup Nina Agustina Tertarik Kampung Jangkrik Kertasemaya
INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- Calon Bupati Indramayu Nomor Urut 4, Nina Agustina Dai Bachtiar, tertarik dengan salah satu kampung yang dihuni oleh masyarakat berprofesi sebagai peternak serangga jenis Gryllide (Jangkrik).
 
Kawasan Desa/Kecamatan Kertasemaya di Blok Rengas Payung yang unik itu dikunjungi oleh Cabup yang diusung PDI Perjuangan, Gerindra, Nasdem dan Perindo. Calon Bupati Indramayu Nina Agustina didampingi Pelawak senior Mpok Atiek, mengatakan peternak jangkrik menjadi salah satu usaha yang harus dibantu oleh pemerintah daerah yang selama ini keberadaanya belum tersentuh. Untuk itu, Nina Lucky akan tetap komitmen dalam 99 program prioritas itu.
 
"Usaha ini sangat menguntungkan, semoga memberi inspirasi bagi warga lainnya, terutama yang sudah memulai usahanya sebagai peternak jangkrik agar terus dikembangkan," kata Nina disela - sela kunjungan, Sabtu,(17/10/2020).
 
Sebagai wujud komitmen Nina Lucky menjadi pemimpin di Indramayu, pihaknya akan memberikan bantuan modal untuk koperasi sampai dengan 500 juta dan UMKM sampai dengan 25 juta tanpa agunan.
 
"Nah, termasuk Kampung Jangkrik ini juga bisa menjadi penambahan destinasi wisata baru berbasis kearifan lokal," terang Putri Mantan Kapolri Dai Bachtiar.
 
Informasi yang diperoleh,  sedikitnya ada 20 orang di Desa Kertasemaya yang memilih profesi sebagai peternak jangkrik, mereka memulai usaha tersebut sejak tahun 2016 lalu.
 
Selain berternak jangkrik, Desa Kertasemaya juga memberdayakan kaum ibu untuk mengelola jangkrik-jangkrik menjadi bahan makanan berupa peyek jangkrik.
 
Jika dirawat dengan maksimal dapat memanen jangkrik hingga 160 kilogram, dalam satu bulan mereka dapat menghasilkan panen jangkrik hingga 640 kilogram.
 
Salah satu peternak jangkrik di Blok Rengaspayung, Desa/Kecamatan Kertasemaya, Rasilah (45) mengatakan, beternak jangkrik menjadi usaha yang menggiurkan sekaligus penuh risiko di musim kemarau ini.
 
Pasalnya, permintaan pasar terhadap jangkrik di musim kemarau meningkat tajam dengan harga jual yang mahal. Hal tersebut berbanding terbalik dengan beternak jangkrik di musim penghujan.
 
"Kalau di musim kemarau, satu kilogram mencapai Rp 40 ribu," kata Rasilah.
 
Meski harga jangkrik tinggi, namun risiko pun ikut meningkat. Karena banyak jangkrik yang mati pada musim kemarau sehingga membutuhkan ketekunan dan perawatan ekstra untuk merawat jangkrik-jangkrik tersebut.
 
Dikatakannya, di musim penghujan berternak jangkrik tidak perlu perawatan khusus. Namun harga jual dan pesanan jangkrik justru merosot tajam, hanya Rp 15 ribu per kilogramnya.
 
"Untuk menernakan 1 ons telur jangkrik hanya memerlukan biaya Rp 18 ribu saja. Dari 1 ons telur jangkrik itu bisa menghasilkan 1 kilogram jangkrik," pungkasnya
 
Rasilah berharap, jika Nina Agustina menjadi Bupati Indramayu, bisa mendorong peternak jangkrik lainnya untuk mengembangkan usahanya serta diberikan bantuan dari Pemerintah daerah. Karena selama ini, lanjut Rasilah, belum pernah mendapat bantuan dari Pemda Indramayu.
 
"Belum pernah ada bantuan dari Pemerintah daerah Indramayu, kita disini mandiri saja," tandasnya
 

Redaktur: Ihsan Mahfudz
Penulis: Ihsan Mahfudz
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive