Gerakan Perlawanan Rakyat Indramayu yang Kerap Terlupakan

Gerakan Perlawanan Rakyat Indramayu yang Kerap Terlupakan

INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- Peran tokoh pemimpin dalam gerakan radikalisasi petani di desa-desa melawan kekuasaan yang dianggap mencekik leher rakyat, menurut sejarawan Kuntowijoyo dalam tesisnya tentang “Radikalisasi Petani”, sangatlah sentral. Demikian halnya dengan kisah perlawanan rakyat Kaplongan terhadap pemerintah kolonial Jepang. Ada satu nama tokoh pemuka agama yang menjadi panutan rakyat Kaplongan kala itu dalam melawan keserakahan Jepang, yang kini cenderung terlupakan. Nama tokoh itu ialah: Kiai Arsyad.

Rakyat Kaplongan di bawah kepemimpinan Kiai Arsyad bertekad melawan Jepang beserta antek-anteknya yang menerapkan politik beras, dimana seluruh hasil panen padi milik para petani harus diserahkan kepada pemerintah kolonial Jepang kecuali hanya 2 gedeng atau sekitar 10 kg padi yang boleh disimpan untuk satu keluarga petani.

Penulis sejarah asal Jepang, Akira Nagazumi, mencatat dalam bukunya “Pemberontakan Indonesia Di Masa Pendudukan Jepang”, bahwa rakyat Kaplongan menolak aturan Jepang yang ingin merampas hasil panen padi mereka. Penolakan pada mulanya tidak berani dikemukakan secara terbuka oleh rakyat. Beberapa keturunan dari pelaku sejarah di desa kaplongan menuturkan, keberanian rakyat muncul ketika Kiai Arsad secara terbuka menolak aturan Jepang.

Gerakan perlawanan rakyat Kaplongan ini menjadi pionir bagi desa-desa lainnya. Sebulan pasca pecah perang antara rakyat Kaplongan melawan tentara Jepang yang dibantu polisi dan tentara pribumi, pecah pula perlawanan rakyat di perbatasan Kecamatan Sindang dan Lohbener, Desa Cidempet Arahan dan Bugis Anjatan juga perlawanan kecil-kecilan dan sporadis di banyak desa lainnya.

Perlawanan petani Indramayu berlangsung antara bulan April sampai Agustus 1944, selama musim panen besar. Ini merupakan perlawanan petani yang paling besar di Indramayu, sejak serangkaian perlawanan anti pamong praja dan anti Cina pada tahun 1943, di bawah pimpinan Sarekat Islam.

Ada satu catatan mengenai kronologi perlawanan rakyat Kaplongan. Catatan ini adalah satu versi yang agak berbeda dari kisah yang diwarisi anak keturunan para pelaku sejarah di Kaplongan (kini dimekarkan jadi dua desa: Kaplongan Kecamatan Kedokanbunder dan Kaplonganlor Karangampel).

Menurut catatan tersebut, gerakan perlawanan rakyat Kaplongan dipicu oleh aksi perampasan padi milik Haji Aksan oleh orang-orang suruhan atas perintah Camat Karangampel yang bernama Misnasastra. Tetapi Haji Aksan menolak.

Dengan minta bantuan kepada polisi, Haji Aksan ditangkap untuk dibawa ke Balai Desa. Dengan ditangkapnya Haji Aksan maka rakyat Desa Kaplongan berbondong-bondong menyerbu Balai Desa dan menyerang polisi.

Dalam kenyataannya perlawanan rakyat Indramayu, termasuk rakyat kaplongan terhadap tentara pendudukan Jepang dipelopori oleh beberapa orang pemuka agama.

Akira Nagazumi menuliskan lebih rinci dengan versi sedikit berbeda dari versi di atas. Bahwa pada suatu hari di tahun 1944, ketika panen baru saja dimulai, para petani di Desa Kaplongan diberitahu oleh para pejabat desa bahwa telah dikeluarkan peraturan baru yang menyerukan petani harus menyerahkan semua padi mereka, kecuali dua gedeng per rumah tangga. Satu gedeng kira-kira seberat 5 kg.

Dengan adanya peraturan baru ini, para petani tidak diperbolehkan menyimpan lebih dari 10 kg padi. Tidak lama kemudian, hari Jumat pagi bulan April, Camat Karangampel Majanasastra dan dua orang agen polisi datang ke Kaplongan untuk menerapkan peraturan baru itu.

Ketika mereka tiba, semua penduduk disuruh datang ke Balai Desa. Mula-mula Sekretaris Desa, Hasim berbicara atas nama pemerintah. Ia menganjurkan agar semua warga menyerahkan seluruh persediaan padi yang mereka miliki, kecuali dua gedeng.

Sebagian petani mulai mengerutu dan yang lain mulai berteriak tidak setuju, tetapi pada saat itu tidak ada yang berani menolak secara terbuka. Penduduk Kaplongan disuruh menyita padi Haji Aksan, dan membawanya ke Balai Desa. Kendati banyak warga yang ragu-ragu melaksanakan perintah itu, namun sedikit demi sedikit padi milik Haji Aksan dibawa ke Balai Desa.

Tugas itu belum selesai ketika tiba waktunya untuk sembahyang Jumat di mesjid. Mereka meminta agar camat mengijinkan meraka beristirahat sebentar di mesjid. Namun camat menolak dan bersikeras agar pekerjaan tetap dilaksanakan.

Pada saat itulah terjadi pertengkaran yang panas antara petani dengan camat dan Kepala Desa. Para petani mulai mengambil batu dan melemparnya ke arah pejabat. Sasaran kemarahan mereka yang utama adalah camat dan dua agen polisi.

Dalam peristiwa hujan batu itu, camat jatuh pingsan, sedangkan kedua agen polisi terbunuh. Kepala Desa dan para pejabat desa lainnya berhasil melarikan diri sehingga selamat dari maut.

Atas peristiwa itu penduduk menyadari bahwa mereka mau tidak mau akan berhadapan dengan kekuatan militer Jepang dan tidak bisa mundur lagi. Mereka harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Dengan semangat dan sesuai keyakinan agama, mereka memutuskan lebih baik berjuang melawan pemerintah daripada mati kelaparan.

Malam itu, beratus-ratus orang datang ke langgar Kiai Arsyad, seorang guru agama yang disegani di desa itu, untuk meminta air suci yang konon akan menjadikan kebal terhadap serangan kafir. Mereka juga memasang penghalang sepanjang jalan utama desa yang menghubungkan desa itu dengan luar.

Pagi berikuynya, tentara jepang tiba bersama polisi dan tentara pribumi. Mereka datang dengan truk dan menyingkirkan penghalang jalan. Para petani mulai menyerang dengan segala senjata yang ada, termasuk batu, batu bata, bambu runcing dan golok.

Tentara Jepang mulai membalas dengan tembakan. Dalam perlawanan tersebut beberapa orang petani terbunuh, dan yang lainnya melarikan diri. Sesudah beberapa hari, tokoh-tokoh penting dalam perlawanan mulai ditangkap satu per satu melalui perangkap yang sangat licik, yang di atur melauli seorang kiai yang sangat termasyur bernama Abas yang memihak Jepang.

Atas permintaan Jepang, kiai Abas datang ke Desa Kaplongan, berpura-pura mengundang para pemimpin perlawanan untuk menghadiri sebuah pertemuan. Karena percaya bahwa semua peserta dijamin keselamatannya, maka 12 orang ikut dengannya. Dan setibanya di Cirebon, semua pemimpin perlawanan ditahan oleh Jepang.

Gerakan perlawanan juga terjadi di Desa Cidempet. Gerakan tersebut dipicu adanya bala tentara Jepang melakukan perampasan hasil panen padi milik rakyat. Sebagian dari hasil panen harus diserahkan kepada Jepang melalui Balai Desa dan sebagiannya lagi boleh dinikmati rakyat. Namun aturan Jepang tersebut ditentang oleh rakyat, sehingga timbullah gerakan perlawanan melawan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, gerakan perlawanan rakyat Indramayu masih juga terjadi yaitu gerakan perlawanan dalam melawan Sekutu. Gerakan tersebut terjadi antara tahun 1946-1947. Sekutu yang diboncengi Belanda berkeinginan untuk kembali menjajah Indonesia. Namun kedatangan Belanda yang memboncengi NICA tersebut dihadang rakyat dalam bentuk perlawanan.

Kejadian tersebut terjadi di Kecamatan Kertasemaya. Kontak senjata melawan Belanda juga terjadi di Desa Larangan. Namun di antara gerakan perlawanan rakyat di Indramayu dalam melawan Belanda yang paling dahsyat terjadi di Kampung Siwatu, yaitu pembumihangusan Kampung Siwatu karena kempung tersebut dijadikan tempat pengungsian para pejuang dari pesantren Wotgali Indramayu.

Jurnal Penelitian BKSNT Bandung Edisi 31, Juli 2005, menulis, Ayib Maknun, warga Indramayu yang menjadi mata-mata Belanda memberitahukan kepada tentara Belanda, kalau Kampung Siwatu dijadikan tempat persembunyian, sehingga oleh Belanda kampung tersebut dibumihanguskan.(ayad)


User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active