SBMI Rilis Tips Pencegahan Penipuan Calon TKI

INDRAMAYU,(Fokuspantura.com),- Maraknya modus penipuan tawaran job pekerjaan ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) menjadi perhatian serius Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) di seluruh Indonesia untuk melakukan pencegahan dan edukasi kepada masyarakat.

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu, Juwarih mentakan, akhir-akhir ini Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) baik di tingkat nasional maupun di daerah banyak menerima aduan dari para korban penipuan dengan modus penawaran job kerja ke luar negeri.

Menurutnya, korban penipuan dengan modus penawaran lowongan kerja ke luar negeri korbannya terus bertambah. Calon PMI yang mengadu ke SBMI secara nasional jumlahnya mencapai ratusan orang, dengan nilai kerugian menembus milyar rupiah.

"Adapun korban yang mengadu ke SBMI Indramayu sejumlah 34 orang, dengan total kerugian mencapai lebih dari Rp. 300 juta," tutur Juwarih dalam keterangan press di kantornya, di Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Senin (13/8/2019).

Ia memaparkan, dari ke 34 orang calon PMI tersebut diiming-iming oleh pihak pelaku dengan informasi lowongan kerja ke negara, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan sebagi PMI formal, dijanjikan job sedang ready, proses cepat dan gaji besar.

"Dengan perekrut yang berbeda-beda, dari ke 34 orang CPMI tersebut yang menjadi korban penipuan dengan modus perekrutan ke Taiwan sebanyak 24 orang, ke Korea Selatan 7 orang, sisanya ke Jepang," papar Ketua SBMI Indramayu.

Ia mengingatkan kepada masyarakat khususnya bagi calon PMI agar jangan mudah tergiur dengan informasi lowongan kerja ke luar negeri di medsos.

"Sekarang kan sedang banyak info tawar kerja ke luar negeri di facebook seperti job kerja ke Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Australia, Polandia, dan sejumlah negara di Timur Tengah, serta job magang ke Jepang," jelasnya.

Belajar dari kasus-kasus tersebut, Juwarih menghimbau kepada masyarakat khususnya di Indramayu jika ada informasi lowongan kerja ke luar negeri baik melalui online maupun offline agar waspada jangan dulu mudah tergiur dan mempercayainya.

Tips Menghindari Penipuan Bermodus Tawaran ke Luar Negeri

Jika ada informasi lowongan kerja di medsos, maupun dari sponsor atau Perekrut Lapangan (PL) yang datang dan menawarkan Job kerja ke Luar Negeri, jangan buru-buru percaya meskipun janjinya manis, bisa mempekerjakan ke luar negeri dengan cepat, kerja enak, gaji besar.

Inget teman-teman, janji manis itu sudah ciri-ciri mau menipu. Lidah mereka (penipu) lebih licin dari oli, janji mereka lebih manis dari Madu lebah liar.

Berdasarkan Pasal 13 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 22 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan TKI, Jadi sebaiknya jangan takut-takut untuk menanyakan dulu apakah penawar Job itu memiliki dokumen sebagai berikut;

  1. Surat Keputusan (SK) dia diangkat sebagai perekrut oleh PPTKIS
  2. Surat Tugas dia dari PPTKIS.
  3. Surat Keterangan Terdaftar sebagai PL yang diterbitkan oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker)  Kabupaten setempat.
  1. Photo copy Job Order yang di syahkan oleh KBRI/KJRI/KDEI.
  2. Photo copy Surat Izin Pengerahan (SIP) yang di syahkan oleh BNP2TKI.

Jika tidak bisa menunjukkan dokumen-dokumen tersebut diatas, lebih baik tawaran Job langsung ditolak saja. Jika bisa menunjukkan dokumen tersebut, jangan takut di photo atau minta copy semua dokumennya lalu kroscek :

  1. Apakah PT tersebut terdaftar atau tidak, cek di sini:   http://pptkln.kemnaker.go.id/apptkln
  2. Tanyakan ke BNP2TKI dengan menelpon ke 0800100 (gratis tidak kena pulsa) apakah job tersebut masih berlaku atau tidak. Klik Link Resmi BNP2TKI untuk mengetahui nama "PPTKIS yang resmi dan info Job yang bisa di pertanggung jawabkan; http://www.bnp2tki.go.id/lembaga-detail/data-p3mi-per-juni-2019 http://jobsinfo.bnp2tki.go.id/
  1. Setiap transaksi harus minta tanda terima (kwitansi bermaterai).

Demikian, tips ini semoga bermanfaat. Ingat, Mencegah lebih baik dari mengobati.Sudah terlalu banyak yang tertipu, jangan sampai anda menjadi korban selanjutnya.


Redaktur: Ihsan Mahfudz
Penulis: Ihsan Mahfudz
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive