Adat Ngarot, Ikon Tradisi Budaya Indramayu

Adat Ngarot, Ikon Tradisi Budaya Indramayu
Tradisi Adat Ngarot merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat, berkah dan rejeki kepada petani. Tradisi Ngarot menjadi salah satu ikon budaya di Kabupaten Indramayu, karena hanya Kota Mangga ini yang memilikinya. 
 
Jelang dimulainya bercocok tanam bagi petani diwilayah Kecamatan Lelea dan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sepanjang tahun budaya tradisi Ngarot di dua Kecamatan tersebut masih terus dilaksanakan. Desa Tamansari Kecamatan Lelea pada tahun 2018 ini,memulai pelaksanaan ritual tradisi Ngarot, dilanjutkan Desa Tugu Kecamatan Lelea, Desa Lelea Kecamatan Lelea dan Desa Jambak Kecamatan Cikedung menutup rangkaian trandisi budaya adat istiadat diwilayah tersebut.
 
Sepeti yang terlihat saat berlangsung prosesi Adat Ngarot dihalaman Kantor Desa Lelea, Kecamatan Lelea. Ribuan masyarakat tumpah ruah untuk menyaksikan prosesi Adat Ngarot yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Lelea, Rabu (18/12/2018)lalu. Kemacetan ini mulai terasa sejak dari Jl. By Pass Pantura di Desa Larangan yang merupakan akses menuju Desa Lelea hingga menyulitkan pengguna jalan yang akan melintas menuju wilayah Cikedung. Di sepanjang kanan-kiri jalan, ratusan pedagang berjajar menjajakan dagangannya yang membuat kemacetan bertambah parah. 
 
Dalam masyarakat berkultur agraris seperti Desa Lelea, Adat Ngarot merupakan suatu tradisi untuk memulai masa bercocok tanam di sawah yang dilakukan sejak abad 16 yang lalu sampai sekarang di musim penghujan (rendeng). Atas konsistensinya dalam merawat tradisi budaya ini, pada tahun 2015, Unesco menetapkan Adat Ngarot sebagai bagian dari warisan budaya tak benda (intengible). 
 
Prosesi Adat Ngarot Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu dimulai dengan pawai puluhan gadis yang bermahkotakan bunga di kepalanya. Dipimpin oleh sang Kepala Desa Lelea, gadis Ngarot mengelilingi batas-batas desa diiringi para jajaka desa di belakangnya. Setelah menyusuri batas-batas desa, barulah gadis dan jajaka desa itu berkumpul di balai desa untuk mendengarkan wejangan atau petuah dari tua desa. 
 
Di akhir prosesi, diserahkan sarana panca usaha tani seperti bibit padi, kendi berisi air, cangkul dan parang, dan lain-lain secara simbolik, kepada perwakilan gadis dan jajaka Ngarot. Penyerahan sarana panca usaha tani ini menjadi penanda dimulainya masa menggarap sawah di musim rendeng yang dilakukan secara massal oleh masyarakat Desa Lelea, untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu tahun ke depan. Acara ditutup dengan tarian longser.
 
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Drs. H. Carsim mengatakan,  Tradisi Adat Ngarot merupakan rangkaian yang panjang dari usaha manusia untuk mengekspresikan rasa syukurnya terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas melimpahnya panen padi di tahun sebelumnya. Rangkaian itu yakni didahului oleh sedekah bumi, ngunjung, durugan (mencangkul), lantas Ngarot yang artinya jeda untuk minum. 
 
“Masyarakat Desa Lelea melakukan Tradisi Adat Ngarot, sebagai tanda dimulainya masa menanam padi secara serentak,” katanya. 
 
Carsim menegaskan, pihaknya akan terus merawat, memelihara, dan meneruskan tradisi Adat Ngarot ini sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Menurutnya banyak hal yang positif dari tradisi ini, di antaranya mengedukasi pemuda-pemudi untuk bercocok tanam di sawah sebagai bekal kehidupan mereka. “Saya kira ini berhubungan dengan ketahanan dan kedaulatan pangan juga. Karena di sisni pemuda dibekali bibit padi dan cangkul sebagai sebuah simbol agar mereka rajin bekerja di sawah untuk memenuhi kebutuhannya, juga mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita,” tandasnya. 
 
Tradisi Adat Ngarot memang identik dengan gadis bermahkotakan bunga. Daya tariknya ada di situ. Konon mitosnya, kalau gadis-gadis yang ikut pawai itu sudah tidak suci lagi, maka bunga yang ada di kepalanya akan layu. 
 
Mitos ini masih banyak dipercayai oleh masyarakat setempat. 
 
“Kalau mereka sudah tidak suci lagi, gadis yang ikut Ngarot akan ketahuan dari bunganya yang layu. Walahu alam,” kata Rita, warga Lelea.  
 
 
Ngarot”, Upacara Adat Sunda Kuna di Indramayu
 
Tidak banyak penutur bahasa Sunda di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Secara keseluruhan berkisar antara 5-10%, selebihnya adalah penutur bahasa Jawa dialek lokal.
 
Budayawan Indramayu, Supali Kasim dalam catatan literasi mengulas tentang Ngarot, sempat melontarkan pendapat dalam unggahan media sosial akun pribadinya menuturkan tentang “Ngarot”, Upacara Adat Sunda Kuna di Indramayu.
 
Menurutnya, ada 3 (tiga) latar belakang keberadaan bahasa Sunda di Indramayu, yakni faktor sejarah, perbatasan, dan urbanisasi. Bahasa Sunda di Desa Lelea dan Tamansari (Kec. Lelea), Desa Parean Girang, Bulak, dan Ilir (Kec. Kandanghaur) karena faktor sejarah.  Saat abad-16 wilayah tersebut merupakan bagian dari Kerajaan Sumedanglarang. Konon patihnya bernama Ki Ageng Galuh Lelean.
 
Di wilayah lain di Kabupaten Indramayu bahasa Sunda juga ada karena merupakan wilayah perbatasan dengan wilayah kultural Sunda, yakni Desa Cikawung (dikenal juga dengan sebutan Cikamurang) Kec. Terisi. Desa tersebut berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Sumedang.
 
Wilayah penutur bahasa Sunda lainnya di Kec. Gantar (Desa Gantar, Mekarjaya, Sanca, Situraja, Baleraja, Bantarwaru, Mekarwaru) dan Kec. Haurgeulis (Desa Haurkolot dan sebagian di Desa Cipancuh dan sekitarnya). Wilayah tersebut berbatasan dengan Kab. Subang.
 
Ada pula wilayah bahasa Sunda karena faktor urbanisasi, yakni di Blok Karangjaya (Desa Mangunjaya, Kec. Anjatan). Pada awal abad-20 mereka berurbanisasi dari Bandung.
 
Bahasa Sunda Kuna yang ada di Kec. Lelea dan Kandanghaur mirip dengan bahasa Sunda di Banten. Mereka tetap menggunakan kosakata kuna (yang terkadang tidak dipakai lagi di wilayah Priangan). Juga, tidak mengenal adanya undak-usuk basa (tingkatan berbahasa). Untuk menyebut ‘ayam’ bukanlah ‘hayam’, melainkan ‘kotok’. Sebab ‘kotoran ayam’ adalah ‘tai kotok’, bukan ‘tai hayam’. 
 
Untuk menyebut ‘jeung’ (dan) digunakan ‘jung’. Sebab mereka tidak mengenal vokal ‘eu’. Jadi:
 
Ayu Rujung-rujung Ngajunjung Ngarot jung Budaya ti Jelma Kolot.  
 
“Ngarot” ditafsirkan sebagai ‘ngaruwat’, ‘ruwatan’. Ada pula yang mengartikan ‘ngaleueut’, karena dilaksanakan pada awal musim hujan dan saatnya mengairi (memberi minum) sawah. Prosesinya berawal dari balaidesa. Para jejaka dan gadis yang sudah siap berdandan ala adat bersiap-siap untuk berkeliling desa. Para jejaka membawa peralatan tani, para gadis membawa bibit tanaman padi.
 
Kembali ke halaman balaidesa, para jejaka dihibur seni ronggeng ketuk (penari perempuan). Para gadis dihibur tari topeng lanang (penari laki-laki). Di situ seperti terjadi persialangan. Konon pula persilangan itu menghasilkan kesuburan dan kemakmuran.
 
Jadi, ayu ah! Rujung-rujung Ngajunjung Ngarot jung Budaya ti Jelma Kolot.

Redaktur: Ihsan Mahfudz
Penulis: Ihsan Mahfudz
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive